Proses Terjadinya Pelangi Dan 11 Jenis Pelangi Dalam Bumi

Proses Terjadinya Pelangi Dan 11 Jenis Pelangi Dalam Bumi

Proses Terjadinya Pelangi – Bianglala atau lebih dikenal dengan sebutan pelangi merupakan fenomena optik berupa cahaya berwarna di udara terbuka. Pelangi umumnya terjadi di udara bebas (di langit) yang berbentuk busur dengan dua ujungnya mengarah ke bawah.

Fenomena ini baru dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak lagi misterius ketika memasuki abad ke-17. Awalnya renaisans menjelaskan bahwa pelangi terdiri dari 3 warna. Setelahnya, Isaac Newton menambahi mengenai 5 warna dan soal efek prisma.

Pelangi dalam bahasa Inggris disebut rainbow, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai busur hujan. Kata busur berasal dari bentuk yang ditunjukan, sedangkan kata busur berasal dari penyebab fenomena tersebut yaitu hujan.

Artinya, rainbow hanya kata yang cocok dipakai untuk menyebut pelangi karena butiran air hujan. Sementara itu, pelangi lain yang disebabkan oleh butiran air selain hujan disebut lain, misalnya waterfallbows atau juga moonbows.

fakta pelangi
Proses Terjadinya Pelangi

Ternyata proses terjadinya pelangi atau pembentukan sebuah pelangi akan bergantung pada jenis pelangi itu sendiri. Namun, secara umum dapat dimengerti bahwa pelangi terjadi karena adanya cahaya yang menabrak butiran air, sehingga cahaya tersebut terbias menjadi warna-warna tertentu.

Sinar matahari yang bergerak melalui medium udara akan terlihat berwarna tunggal. Warna tunggal sinar matahari tersebut sebenarnya terdiri dari beberapa warna dan baru terpecah ketika terkena butiran air hujan.

Suatu sinar sebenarnya terdiri dari beberapa spektrum yang berintensitas berbeda-beda. Ketika terjadi pembiasan, spektrum-spektrum akan berkumpul. Spektrum terlemah akan berkumpul dengan yang lemah dan sebaliknya.

Nah, spektrum tersebutlah yang akan ditangkap oleh mata manusia sebagai warna. Spektrum berintensitas paling rendah akan dianggap mata sebagai warna merah. Sementara itu, spektrum yang intensitasnya paling tinggi akan dianggap mata sebagai warna ungu.

Pada pelangi yang paling umum terjadi, yaitu pelangi karena hujan, sinar matahari menabrak butiran air hujan dan akhirnya membias menjadi tujuh warna. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu adalah warna yang dihasilkan.

Fakta Manarik Tentang Pelangi

Warna yang dihasilkan oleh pelangi sebenarnya bisa saja lebih dari itu. Diklaim bahwa warna yang ada berjumlah hingga 1 juta macam. Namun, mata manusia hanya sanggup menangkap 7 warna tersebut.
Pelangi juga sebenarnya tidak berbentuk busur. Dalam kondisi sempurnanya, misalnya dilihat dari pesawat, maka pelangi bisa saja akan terlihat melingkar.

Dalam keadaan langsung, Anda tidak akan dapat mengutarakan hal yang sebenar-benarnya kepada orang lain mengenai pelangi. Hal itu karena pelangi akan nampak berbeda oleh satu mata dengan mata lainnya, bahkan antara mata kanan dan mata kiri.
Beberapa derajat saja perbedaan dua orang melihat pelangi, maka wujud yang mereka tangkap juga berbeda. Hingga kini bahkan kebanyak orang di Cina akan berpendapat bahwa warna pelangi terdiri dari 5 macam saja.

Fenomena pelangi memang bukan serta merta terjadi karena adanya sinar dan butiran air saja, namun juga faktor pelihat. Pada pelangi hujan, pelangi hanya terbentuk bagi seseorang yang berseberangan dengan sinar matahari (pelihat-hujan-matahari). Bagi seseorang yang berada di garis hujan, maka tentu tidak akan dapat menyaksikan pelangi.

Busur besar bentuk pelangi sebenarnya tidak terdiri dari gabungan warna yang berbentuk titik-titik seperti halnya kalau kita melihat warna pada layar monitor, namun terbentuk dari pelangi kecil yang berbentuk busur juga. Dengan kata lain, di dalam busur pelangi masih ada busur pelangi yang lebih kecil.

11 Jenis Jenis Pelangi Dalam Bumi yang Mungkin Belum Anda Ketahui

jenis jenis pelangi

Apa pun jenis pelangi tersebut, pembentukannya secara konsep adalah sama, yaitu adanya sinar polikromatik yang dipecah oleh butiran air menjadi beberapa spektrum. Perbedaan tinggi rendahnya spektrum cahaya tersebut akan ditangkap mata sebagai warna berbeda.

1. Bianglala Kabut

Butiran air yang bertugas sebagai pembias cahaya matahari tidak harus berasal dari hujan, tetapi juga bisa dari kabut. Proses terjadinya pelangi kabut adalah karena adanya sinar matahari yang menabrak kabut.

Ingat, kabut merupakan butiran air yang sangat kecil. Warna yang muncul karena kabut ini akan cenderung merah dan biru. Warna merah berada di bagian atas dan biru berada di dalam atau bawah.

2. Bianglala Ganda

Jika sebuah sinar menabrak dua kali butiran air, maka yang terjadi adalah pelangi ganda. Misalnya pada fenomena hujan, pelangi ganda ini akan terjadi apabila ada dua daerah hujan yang terpisah oleh daerah yang tidak hujan.

Artinya, sinar matahari yang sudah terbias oleh hujan pertama menjadi pelangi, kembali terbias oleh hujan kedua. Dengan begitu akan ada dua pelangi yang sejajar. Namun, biasanya susunan warnanya terbalik. Nah, itulah yang terjadi pada proses terjadinya pelangi ganda.

3. Bianglala Sirkular

Pelangi sirkular adalah pelangi yang berbentuk lingkaran penuh. Sebenarnya, bentuk normal dari pelangi memang lingkaran. Namun, karena posisi pelihat yang umumnya berada di daratan dengan sudut sekitar 45 derajat, maka yang terlihat hanya setengah.

Proses terjadinya pelangi sirkular bisa sama dengan pelangi lainnya, yang membedakan hanyalah posisi pelihatnya.

Apabila pelihat berada di daratan tinggi, pesawat, atau di suatu tempat yang memungkinkan butiran air dapat lebih rendah dari pelihat, maka pelangi akan berbentuk lingkaran. Pelihat yang berada pada posisi dapat melihat pelangi sirkular biasanya juga akan bisa melihat pelangi kabut sekaligus.

4. Bianglala Kembar

Secara umum butiran hujan jatuh dalam ukuran yang sma persis antara satu dengan lainnya. Namun, hal itu bisa juga tidak. Beberapa faktor seperti angin atau benda padar yang memecah sebagian butiran air akan membuat butiran air tersebut berbeda.

Akibat dari butiran air yang tidak sama adalah pembiasan warna yang berbeda juga. Butiran air hujan akan membiaskan sebuah pelangi dan butiran air yang lebih kecil akan membiaskan sinar menjadi pelangi lain.

Dua pembiasan oleh dua butiran air yang berbeda tersebut akan membuat pelangi dengan susunan warna yang sama berada berdampingan tetapi bisa saja tidak sejajar.

5. Bianglala Satu Warna

Pelangi sempurna, atau pelangi yang menciptakan tujuh warna hanya terjadi apabila sinar yang ada kuat intensitasnya. Artinya, ketika fajar atau pun senja, pelangi yang tercipta hanya akan berupa satu warna.

Proses terjadinya pelangi yang melibatkan cahaya lemah, warna yang muncul biasanya akan cenderung kemerahan. Warna merah memang memiliki spektrum paling rendah dalam urutan warna pelangi normal.

6. Bianglala Ekstra Warna

Di antara penyebab terjadinya pelangi, yaitu cahaya dan butiran air, tentu saja selalu ada faktor lain yang mempengaruhi. Angin misalnya. Angin bisa membuat butiran air menjadi bergerak tidak beraturan dan akhirnya akan memunculkan pembiasan yang tidak beraturan juga.

Pembiasan oleh butiran air yang bergerak tidak beraturan akan menciptakan warna di antara pelangi utama. Biasanya, pada hujan berangin kencang, akan terjadi ketidakberaturan warna yaitu munculnya warna hijau di antara warna yang lain.

Warna-warna normal pelangi akan tetap muncul, tetapi akan muncul lagi warna tambahan. Misalnya ada dua warna kuning yang bertumpuk atau warna hijau yang muncul di atas warna ungu. Selain hijau, warna yang bisa muncul karena ini adalah ungu dan nila.

7. Bianglala Bulan

Kita sudah memahami sejak awal bahwa proses terjadinya pelangi bukan hanya dari matahari dan hujan, tetapi dari sinar(apa pun sumbernya) yang menabrak butiran air(apa pun fenomena alam butiran air)

Sinar yang dimaksud bisa juga sinar bulan dan butiran air yang dimaksud bisa saja kabut atau pun awan.

Karena cahaya bulan memang tidak sekuat cahaya matahari, maka hasilnya pun hanya spektrum-spektrum rendah yang terbias. Bisa saja berwarna lengkap, tetapi juga bisa hanya berupa warna nila saja.

Namun, cahaya bulan juga bisa saja menciptakan warna pelangi sempurna ketika malam hari. Fenomena itu biasa disebut sebagai halo. Fenomena ini memang tidak bisa disebut sebagai rainbow karena tidak terjadi karena hujan dan tidak berbentuk busur.

Halo merupakan salah satu bianglala yang memiliki bentuk lingkaran sempurna mengitari bulan. Proses terjadinya pelangi ini karena ada udara yang membeku di atmosfer. Udara tersebut tertabrak sinar bulan dan akhir akan terlihat oleh seseorang yang ada di bawahnya.

Berbeda dengan pelangi umumnya, halo justru akan terlihat jelas apabila arah cahaya berada tepat di atas pelihat. Itu juga yang menyebabkan pelangi yang tercipta lebih besar dari pelangi.

8. Bianglala Klasik

Tahukah kamu bahwa pelangi juga memiliki versi klasiknya? Proses terjadinya pelangi ini belum banyak diketahui karena fenomenanya juga sangat jarang. Yang dimaksud pelangi klasik ini adalah pelangi yang pembiasannya hanya memunculkan 6 warna, yaitu tanpa warna nila.

Pemahaman mengenai bentuk dan warna pelangi memang terus berkembang. Di awal pemahamannya, pelangi hanya dikatakan memiliki 3 warna. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi 5 warna. Versi terbaru adalah terletak pada kemampuan mata manusia yang dapat menangkap 7 warna.

9. Bianglala Sundogs

Pelangi yang sangat jarang terjadi ini adalah pelangi khas daerah beriklim dingin. Proses terjadinya pelangi sundogs ini adalah karena adanya keristal es di udara. Artinya, ketika itu adalah musim salju yang disinari matahari.

Warna yang muncul pada pelangi ini sama dengan pelangi biasanya, namun warna merah berada di bagian luar sementara warna ungu justru berada di dalam. Kepekatan warna yang ada juga sebanding dengan kepekatan kristal es di udara.

10. Bianglala Air Terjun

Salah satu pelangi yang bertahan sangat lama adalah pelangi di sekitar air terjun. Proses terjadinya pelangi ini bukan karena butiran air yang jatuh, tetapi justru karena butiran air yang naik.

Air terjun yang bertumbukan di bawah akan menciptakan butiran air yang sangat halus. Saking halusnya, maka butiran air tersebut akan terangkat dari permukaan air dan melayang-layang di sekitar air terjun.

11. Bianglala Api

Salah satu pelangi yang paling langka adalah pelangi api. Disebut begitu, karena proses terjadinya pelangi ini melibatkan awan cirrus yang bergerak dan akan membuat pelangi berkobar.

Awan cirrus yang berperan sebagai pembias harus berada di ketinggian sekitar 6 km dengan sinar matahari yang menyorot berasal dari sudut 58-68 derajat. Pelihat pelangi ini juga hanya mereka yang berada di daratan tinggi dengan posisi 55 derajat dari titik bias.

Comments are closed.